OM SWASTIASTU

Selamat datang di blog cinta bali ini, Buat teman teman yang mau menyumbangkan artikel artikel tentang budaya bali silakan dikirim ke Email saya : mankbutjvs@gmail.com , artikel harap berbentuk doc/pdf , sertakan juga nama anda untuk dicantumkan , artikel boleh berbentuk babad , objek wisata , kesenian Dsb ,anda boleh copas dari blog lain tapi dengan syarat menyertakan link sumbernya, dengan tujuan meningkatkan Search Engine OptimationDan pagerank blog tersebut agar yg punya blog tidak rugi karena artikelnya di copas (CintaBali)

Danau tamblingan dan Danau Buyan


Danau tamblingan dan Danau Buyan memiliki daya tarik yang cukup mempesona. Keaslian alam di kedua danau ini masih sangat dirasakan misalnya dengan tidak adanya penggunaan perahu bermotor di kedua danau ini. Masyarakat setempat menggunakan perahu-perahu kecil yang disebut “pedahu” untuk memancing. Dengan udara yang sejuk dikelilingi pegunungan yang serba hijau, suasana udara yang segar memberikan suasana yang tenang dan nyaman. Danau ini sangat ideal untuk olah rekreasi air seperti mendayung dan memancing.Terutama bagi mereka yang menyenangi alam dan rekreasi di alam kedua danau ini adalah tempatnya. Adanya kera-kera yang tidak jauh dari kedua danau ini yaitu di jalan raya sebelah danau Buyan jurusan Denpasar-Singaraja yang semakin hari semakin banyak jumlahnya, menambah daya tarik kawasan ini sebagai obyek wisata.

Danau Buyan dan Danau Tamblingan berlokasi di Kecamatan Sukasada, 21 km sebelah Selatan Kota Singaraja. Terletak di pinggir jalan Depasar Singaraja. Letaknya yang cukup tinggi yaitu kurang lebih 1000 meter dari permukaan laut sehingga udara agak sejuk dan dingin pada malam hari. Sedangkan danau Tamblingan dapat dicapai melalui pertigaan ke arah Desa Munduk, Desa Gobleg dan tembus di kawasan Lovina, sepanjang jalan menyajikan suatu pemandangan danau Tamblingan secara utuh. Dari Desa Munduk dapat dicapai danau melalui jalan swadaya masyarakat. Mobil dapat mencapai pinggir danau yang masih asri, dengan kawasan hutannya yang belum tersentuh.

PUPUH SINOM

Pupuh sinom wantah silih sinunggil Kasusastran Bali Purwa sane ngeranjing ring kategori Tembang Macapat utawi Sekar Alit. Pupuh Sinom kaiket antuk aturan pada lingsane (baris tiap baitnya)akehne adasa lan susunan carik lan suaran untatne inggih punika, 8a 8i 8a 8i 8i 8u 8a 8i 4u 8a. Unteng raose biasane anggen maseneng-seneng , liang, pitutur becik utawi nasehat, lan piteket-piteket.

Ring sor puniki wantah marupa imba utawi conto Pupuh Sinom sane ngawangun punggelan carita Prabu Senapati Salya.

1. Iseng-isengan manyurat (8i)
Nanging sekare ka Widhi (8a)
Mangapus Bharatayudha (8a)
Ninggarang mamunyi Bali (8i)
Sinampura Dewa Gusti (8i)
Antuk Ida dane ipun (8u)
Mamunggelang punang crita (8a)
Duk Sang Salya Senapati ((8i)
Sampun puput (4u)
Kabiseka jaya-jaya (8a)
2. Ne mangkin kalungang-lungang
Ortane rauh sujati
Kaatur ring Sang Pandawa
Keweh pangeraas mangkin
Mawinang maminehin
Sang Kresna nyanggra masaur
Ngawijilang pangupaya
Patut pamargine nyilib
Tur kadauh
Yogia Ida Sang Nakula.
3. Mangkin Ida Sang Nakula
Angob mireng manyingakin
Tetingkahane ring jumah
Waluya ring Madrapati
Bancingahe mancak saji
Tiing macerancang alus
Ngojog ka pasarenan
Sang Salya sedek katangkil
Eluh-eluh
Kundang-kundang seseliran.
4. Kagiat kayune manyingak
Sang Nakula rauh tangkil
Ngandika Ida manyapa
"Duh mas mirah uwane cai!
Lasia cai teka mai
Buka tong ada mangrungu
Musuh yatna maglagaran
Ngrencana yudane mani."
Raris matur
Sang Nakula saha sembah.

Omkara

Suku kata “Om” atau “Aum” tentunya bukanlah suku kata yang asing lagi bagi seluruh penganut Veda. Tidak peduli apapun garis perguruannya maupun jalan/marga yang dia tempuh sudah pasti mengenal suku kata Om ini karena tidak ada satupun kitab bagian-bagian kitab suci Veda yang tidak mengandung suku kata Om ini. Apa sebenarnya Om sehingga menjadi primadona dalam kitab suci Veda?

Bhagavad Gita 7.8 memberikan penegasan bahwa suku kata Om mengacu kepada Tuhan Yang Maha Esa itu sendiri; raso ‘ham apsu kaunteya prabhäsmi çaçi-süryayoù praëavaù sarva-vedeñu çabdaù khe pauruñam nrsu, Aku adalah rasa dalam air, cahaya matahari dan bulan, suku kata Om dalam mantra-mantra Veda; Aku adalah suara di angkasa dan kesanggupan dalam manusia”. Pernyataan yang serupa diperlihatkan dalam Bhagavad Gita 9.17; “pitäham asya jagato mätä dhätä pitämahaù vedyam pavitram omkära åk säma ajur eva ca, Aku adalah ayah alam semesta ini, ibu, penyangga dan kakek. Akulah objek pengetahuan, yang menyucikan dan suku kata Om. Aku juga Rg, Sama dan Yajur Veda”. Dan lebih lanjut dalam Bhagavad Gita 10.25; “maharñéëäm bhrgur aham giräm asmy ekam akñaram yajïänäm japa-yajïo ’smi sthävaräëäm himälayaù, diantara para rsi yang mulia, Aku adalah Bhrgu, diantara semua vibrasi Aku adalah Om yang transenden, diantara korban suci, Aku adalah pengucapan nama-nama suci (japa) dan diantara yang tidak terpindahkan, Aku adalah himalaya”. Jadi dari tiga sloka Bhagavad Gita ini menegaskan bahwa Om adalah Tuhan Yang Maha Esa itu sendiri.

Sedangkan dalam Bhagavad Gita 17.23 disebutkan; “om tat sad iti nirdeço brahmaëas tri-vidhaù småtaù brähmaëäs tena vedäç ca yajïäç ca vihitäù purä, sejak awal ciptaan, ketiga kata om tat sat digunakan untuk menunjukkan kebenaran Mutlak Yang Paling Utama. Tiga lambang tersebut digunakan oleh para brahmana sambil mengucapkan mantra-mantra Veda dan pada waktu menghaturkan korban suci untuk memuaskan Yang Maha Kuasa. Dan dalam Bhagavad Gita 17.24 juga disebutkan; “tasmäd om ity dähåtya yajïa-däna-tapaù-kriyäù pravartante vidhänoktäù satatam brahma-vädinäm, karena itu, para rohaniwan yang melakukan korban suci, kedermawanan dan pertapaan menurut aturan Kitab Suci selalu memulai dengan “Om” untuk mencapai Yang Maha Kuasa.

Dari dua sloka Bhagavad Gita di atas kita mendapatkan informasi tentang pentingnya suku kata Om dan juga suku kata tat dan sat. Tiga kata Om tat sat diucapkan berhubungan dengan nama suci Tuhan Yang Maha Esa, misalnya, Om tad Visnoh. Bila mantra Veda atau nama suci Tuhan diucapkan, kata Om juga diucapkan sebagai tambahan. Ketiga kata Om tat sat diambil dari mantra-mantra Veda. Om ity etad brahmano nedistham nama (Rg. Veda) menunjukkan yang pertama. Kemudian tat tvam asi (Chandogya Upanisad 6.8.7) menunjukkan tujuan kedua. Sad eva saumya (Chandogya Upanisad 6.2.1) menunjukkan tujuan ketiga. Beberapa sloka Veda mengatakan bahwa Om tat sat pertama kali digunakan oleh mahluk hidup yang pertama, Dewa Brahma pada awal penciptaan dalam menghaturkan korban-korban suci yang ditujukan kepada Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa. Karena itulah sampai saat ini para penganut Veda menggucapkan kata “Om tat sat” dalam memulai pekerjaan dengan maksud menyerahkan semua hasil pekerjaannya hanya kepada Tuhan.

Penjelasan mengenai Om tat sat ini dapat kita temukan lebih lanjut dalam sloka-sloka berikutnya, yaitu Bhagavad Gita 17.25, 17.26 dan 17.27.

“tad ity anabhisandhäya phalaà yajïa-tapaù-kriyäù däna-kriyäç ca vividhäù kriyante mokña-käìkñibhiù, tanpa menginginkan hasil atau pahala, hendaknya seseorang melakukan berbagai jenis korban suci, pertapaan dan kedermawanan dengan kata ‘tat’. Tujuan kegiatan rohani tersebut adalah untuk mencapai pembebasan dari ikatan material” (Bhagavad Gita 17.25). “sad-bhäve sädhu-bhäve ca sad ity etat prayujyate praçaste karmaëi tathä sac-chabdaù pärtha yujyate yajïe tapasi däne ca sthitiù sad iti cocyate karma caiva tad-arthéyaà sad ity eväbhidhéyate, kebenaran mutlak adalah tujuan korban suci bhakti. Kebenaran mutlak ditunjukkan dengan kata ‘sat’. Pelaksanaan korban suci seperti itu juga disebut ‘sat’. Segala pekerjaan korban suci, pertapaan dan kedermawanan yang dilaksanakan untuk memuaskan Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa dan setia kepada sifat Mutlak juga disebut ‘sat’, wahai putra Prtha” (Bhagavad Gita 17.26-27).

Suku kata suci Om atau Omkara juga dikenal dengan istilah pranava dan aksara yang mengacu pada inti dari pengetahuan Veda yang disebut Maha-vakya. Sehingga tidaklah salah jika orang mengatakan bahwa tujuan mempelajari Veda hanyalah dua, yaitu ingat dan tidak pernah lupa pada Tuhan. Suku kata Om adalah suku kata yang paling awal dan paling dasar dalam literatur Veda dalam menyebutkan Tuhan.

Kebudayaan Mesir kuno juga mengenal kata yang sakral “Aum”, “Amen” atau “Amun” yang memiliki kaitan dengan suku kata Om yang menunjukkan “vibrasi energi paling purba”. Dalam Alkitab, Yohanes 1.1 disebutkan “Pada awalnya adalah sebuah kata, dan kata adalah dengan Tuhan dan kata adalah Tuhan, Amen(Aum)”. Beberapa abad setelah jaman Yesus, kata “Amen” di adopsi oleh oleh Islam menjadi kata “Amin”. Apakah kata Om teradopsi menjadi Aum dan berikutnya Amum, Amen dan terakhir Amin? Al-Qur’an sendiri diawali dengan suku kata “Alm” yang mungkin mengacu pada kata dasar Om. Kata Om ternyata juga dikenal oleh bangsa Maya sebagai vibrasi energi dasar yang diyakini dapat mengantarkan kehidupan. Dalam Agama Buddha juga dikenal istilah Om dalam mantra “Om Mani Padme Hum” . Om adalah bagian yang integral dari ritual, filsafat, meditasi dan japa bagi umat Buddha.

Hal yang cukup mengejutkan bahwasanya sudah sangat banyak penelitian ilmiah yang dilakukan untuk mengetahui efek dari suara suci Om ini. Salah satunya adalah untuk mengetahui stimulus yang diberikan oleh suara Om pada kemampuan otak manusia.

Yogacharya Vishwas V. Mandlik (Kulaguru, Yoga Vidyapeeth. Nashik) dan Dr. Ramesh Varkhede (Reader in Chemistry, H.P.T. College. Nasik) mengumpulkan 24 wanita dan 13 pria yang berumur antara 20-55 tahun untuk melakukan japa/pengucapan suara Om secara berulang-ulang selama 1 bulan, masing-masing 30 menit setiap paginya setiap hari.

Langkah pertama yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan melakukan psikotest terhadap para peserta untuk mengetahui daya ingatan, konsentrasi dan tingkat kelelahan otak mereka sebelum diadakannya terapi pengucapan Omkara. Hasilnya ternyata sangat mengejutkan, psikotest berikutnya menunjukkan bahwa semua peserta mengalami peningkatan daya ingat, konsentrasi dan meningkatkan daya tahan otak.

Om sebagai elemen sakral dalam Yoga juga telah memberikan manfaat yang luar biasa dalam spiritual dan juga kesehatan dan di akui secara mendunia bukan hanya oleh Hindu, tetapi juga non-Hindu. Sehingga tidaklah salah jika Dewi Lestari Simangunsong, seorang penyanyi dan juga pembuat novel Supernova yang mencantumkan aksara suci Om pada sampul novelnya berkomentar bahwa Omkara adalah anugrah Tuhan untuk semua orang, sebuah simbol yang universal, bukan hanya mereka yang mengaku sebagai Hindu. Dia juga berujar bahwa Omkara memiliki banyak manfaat yang sudah dibuktikan secara ilmiah dan Omkara juga merupakan penghubung antara manusia dengan Tuhan.
Sumber : http://ngarayana.web.ugm.ac.id

Orang Bali, riwayatmu kini

Bali dengan luas hanya 5.632 km2 merupakan sebuah pulau kecil diantara 17.778 pulau lainnya di Indonesia, yang secara geografis tidaklah begitu berarti. Meskipun Bali dapat digolongkan sebagai salah satu pulau terpadat dengan jumlah penduduk 3,3 juta jiwa, namun populasi orang Bali yang tinggal di Bali menurut konsensus penduduk tahun lalu hanya sekitar 60 %-nya saja. Dari total orang Bali yang tinggal di Bali saat ini, sudah 10 % diantaranya meningalkan agama leluhurnya, Hindu.

Bali pada dasarnya adalah pulau miskin yang tidak memiliki kekayaan alam kecuali hasil pertanian dan perikanan yang juga tidak terlalu besar. Dari segi politik, Bali juga tidak memiliki peran yang berarti di kancah nasional karena wakil rakyat Bali yang duduk di DPR/MPR hanya sekitar 5 orang dari total 1000 orang anggota DPR/MPR. Dari segi pertahanan dan keamanan juga sangat tidak mendukung. Sejak runtuhnya kerajaan Majapahit, Bali diserang dan dihimpit dari arah Banyuwangi dan dari Lombok oleh kerajaan-kerajaan Islam waktu itu. Mungkin karena faktor keberuntungan akibat datangnya Portugal dan Belanda yang mengakibatkan gempuran kerajaan Islam pada waktu itu melemah dan Belanda membuat undang-undang khusus untuk melesarikan budaya Bali yang memang sangat endemik, sehingga baik kaum dakwah dan misionaris tidak diijinkan mengkonversi agama orang-orang Bali.

Faktor pendukung yang menguatkan posisi Bali hanyalah kebudayaan dan alamnya yang sangat mempesona serta masyarakatkan yang sangat ramah dan terkenal jujur sehingga tidak salah kalau “dulu” pulau Bali dijuluki “The paradise island”, “The island with thousand temple”, “God island”, “The morning of the world” dan lain sebagainya. Namun, masihkan Bali layak mendapat julukan seperti itu?

Bali tidak seperti dulu lagi. Kemanakah tempat-tempat suci yang penuh keheningan? Kemanakah kejujuran dan keramahan orang Bali saat ini? Kemana keindahan alam pulau Bali?

Bangunan-bangunan pura nan megah sudah disulap menjadi tempat pariwisata yang mengesampingkan “taksu”/roh dari pura itu sendiri. Kehikmatan umat dalam bersembahyang harus dikesampingkan demi kepentingan para turis asing. Upacara keagamaan semakin marak dan semakin marak, tetapi kemanakah makna dari upacara tersebut? Ceramah dan propaganda agama semakin marak menyerang Bali, tetapi sudahkah hal tersebut menghasilkan output yang positif bagi moralitas dan keajegan Bali jati mula?

Saat ini kafe remang-remang menjamur bak musim hujan. Kriminalitas, narkoba, mabuk-mabukan, kenakalan remaja dan sex bebas sudah merambah ke desa-desa. Betapa tidak, saat terakhir saya pulang ke Bali, 1 bulan yang lalu saya menyaksikan beberapa orang teman saya yang dulu saya kenal sangat pendiam dan baik ternyata harus segera dinikahkan karena pasangannya “beling malu”/hamil pra nikah. Bahkan istilah ‘ngecharge HP ke kafe” sudah merupakan istilah yang tidak asing lagi bagi sebagian besar pemuda Bali. Yaitu sebuah istilah yang digunakan untuk mencari wanita penghibur di kafe-kafe yang memang sangat marak saat ini.

Artinya, saat ini orang Bali sudah tergerus dalam efek negatif pariwisata, mengalami kegamangan, kebingungan dan kehilangan pondasi dasar dalam menghadapi perubahan yang demikian cepatnya. Akankah “legenda manusia Bali” akan menjadi sejarah?

Kenapa Bali bisa menjadi seperti saat ini?

Dimana ada gula, disana pasti semut akan berkerumun. Demikian juga dengan Bali, meski tidak memiliki kekayaan alam yang melimpah, tetapi legenda pulau Bali sebagai pulau surga yang mampu menggaet jutaan pariwisata asing dan domestik setiap tahunnya juga memancing gelombang pendatang yang memasuki pulau Bali, sehingga tidaklah mengherankan jika saat ini jumlah pendatang di Bali sudah mencapai 40% dari seluruh penduduk pulau Bali. Parahnya, orang Bali ternyata tidak mampu bersaing dengan para pendatang. Meskipun SDM orang-orang Bali berada di atas rata-rata, namun sering kali kepentok oleh adat dan lingkungan yang tidak memungkinkannya berkembang. Para investor dan pemilik usaha sering kali lebih memilih SDM yang bukan orang Bali karena mereka lebih fleksibel dan tidak menuntut waktu libur yang banyak.

Orang Bali jangan bangga kalau Bali merupakan penghasil devisa terbesar di Indonesia, jangan bangga bahwa Bali adalah pulau kaya dan megah. Tidakkah orang Bali tahu bahwa hotel-hotel nan megah, kafe-kafe dan bahkan alam tempat wisata yang indah sudah dikuasai oleh orang asing? Orang Bali hanya pembantu di rumah mereka sendiri. Mereka bangga dijadikan tontonan yang tidak ubahnya seperti topeng monyet dimana sebenarnya penikmat utama dari duit yang masuk ke Bali adalah investor.

Sikap feodal yang membawa orang Bali menjadi manja dan tidak mau bekerja keras juga merupakan hal utama dalam memukul mundur Bali itu sendiri. Semua sektor informal yang dipandang “rendah” tetapi merupakan sektor yang paling mampu mengeruk kekayaan Bali dikuasai oleh pendatang. Pedagang sate, bakso, martabak dan pedagang kaki lima lainnya rata-rata dikuasai pendatang. Pasar senggol dipenuhi oleh pedagang pendatang. Dan bahkan tidak jarang kita temukan penjual banten adalah warga pendatang yang bukan orang Bali dan bukan juga orang Hindu. Sehingga tidaklah salah kalau orang mengejek orang Bali dengan mengatakan; “Orang Bali menjual tanah untuk membeli bakso dan pendatang menjual bakso untuk membeli tanah di Bali”. Karena sikap manja dan tidak mau bekerja kasar ini jugalah yang menyebabkan banyaknya buruh di sektor pertanian yang diisi oleh pendatang dan orang Bali sendiri dapat dikatakan sebagai “pengangguran terselubung”.

Sikap senang melihat saudara susah dan susah melihat saudara senang juga merupakan penyakit kronis yang sudah menghinggapi orang Bali. Tidak jarang sikap iri dan dengki ini dilampiaskan melalui aji ugig/pengiwa/ilmu hitam. Jika ada seorang warga banjar yang nampak sukses dan karena kesibukannya tidak mampu secara rutin mengikuti kegiatan banjar, maka dengan gampangnya orang tersebut dipersalahkan, dipergunjingkan bahkan tidak jarang yang “kutang banjar”. Namun anehnya di balik iri dan dengkinya terhadap saudara sendiri, dia menerima pendatang dengan sangat welcome. Mendirikan pasraman / ashram dan sejenisnya sulitnya minta ampun, padahal sama-sama orang Hindu dan juga Bali. Tetapi membangun tempat suci agama lain difasilitasi dengan baik karena alasan tolerasi. Apakah tolerasi hanya berlaku bagi pendatang dan tidak berlaku bagi warga lokal?

Institusi lokal yang seharusnya menaungi dan melindungi Bali tidak mampu berperan, bahkan kesannya cenderung menekan dan menghancurkan. Awig-awig desa adat sering kali menjadi self destruction. Banyak masyarakat Bali yang harus keluar dari adat dan meninggalkan Hindu karena konflik dengan adat dan dengan upacara-upacara adatnya. Parisada yang seharusnya menjadi pengayom dan pembimbing umat sudah mandul. Berbagai macam kasus yang seharusnya ditindak secara proaktif oleh parisada tidak juga kunjung dilakukan. Kasus penghancuran pura di Sanur oleh investor, pembuatan “pura tipuan” oleh para misionaris Kristen, penistaan simbol-simbol Hindu dan permasalahan sosial lainnya tidak mampu dipecahkan oleh parisada. Tidakkah yang duduk di dalam parisada adalah orang-orang intelek yang mampu menyetir Hindu dan Bali pada khususnya kearah yang benar?

Bapak Satya Narada juga sudah dengan giatnya mengumandangkan “Ajeg Bali” lewat media miliknya, Bali TV. Tetapi dalam perkembangannya Ajeg Bali ternyata hanya sebuah wacana yang tidak lebih dari pada sebuah bahasa para dewa yang tidak applicable di masyarakat. Bahkan tidak jarang moto Ajeg Bali berujung pada ajang bisnis semata.

Suatu kondisi labil seperti ini menghantarkan orang Bali kepada keinginan untuk berubah. Namun, perubahan kearah mana yang akan dituju? Setiap kondisi kesusahan dan penyakit selalu dikait-kaitkan dengan hal-hal yang diluar nalar. Pergi ke orang pintar untuk “meluasan” dan melakukan upacara-upacara besar yang tidak diiringi oleh keiklasan, filsafat dan sikap untuk memperbaiki tingkah pola diri sendiri pada akhirnya membuat orang Bali tambah miskin, miskin harta, miskin rasa dan miskin filsafat.

Beramai-ramai mencari trah dan kawitan dengan harapan masuk kedalam golongan Tri Wangsa juga merupakan tren yang sedang hangat-hangatnya saat ini. Tidakkah mereka sadar bahwa Tri Wangsa yang merupakan bentuk lain dari sistem Kasta sangat bertentangan dengan hukum dalam Agama Hindu? Bangga akan leluhur dan dapat menjadikan kebanggaan tersebut sebagai modal untuk menyongsong masa depan yang lebih baik adalah hal yang sangat positif, tapi bagaimana jika kebanggaan tersebut membangkitkan egoism sempit dan menghancurkan diri sendiri?

Dengan kehidupan yang selalu di jejali upacara untuk menyupat buana agung (alam ini) yang nilainya tidak dapat dikatakan murah, tetapi tidak dibarengi dengan filsafat demi mengendalikan buana alit (diri sendiri) membuat manusia Bali semakin miskin moral. Sehingga dengan kondisi seperti ini tidaklah mengherankan jika orang-orang Bali yang sedikit lebih intelek berusaha lari mencari pencerahan. Yang beruntung mungkin menemukan warna yang berbeda dari Hindu yang ada di Bali, namun yang kurang beruntung akhirnya hijrah ke agama yang lain.

Bagaimana mengembalikan Jiwa Bali seperti sedia kala? Mari kita kembalikan jati diri kita sebagai orang Bali. Jati diri atau sifat khas orang Bali adalah sifat-sifat dasar, norma-norma, kepercayaan dan tuntunan hidup mendasar yang seharusnya melekat pada setiap orang Bali. Kita tidak boleh lupa bahwasanya budaya Bali dibangun dengan spirit Hindu, jika spirit ini hilang, pulau Bali dan orang-orang Bali tidak ubahnya seperti perangkat keras yang tidak memiliki software yang tepat.

Agama Hindu dimana saja diseluruh dunia bersumber dari kitab suci Veda. Dan dalam perkembangannya ajaran Hindu pecah menjadi dua kelompok utama, yaitu :

1. Kelompok Mimamsa atau kelompok Brahmana. Ajarannya adalah tentang Upacara (Yadnya). Sehingga tidak heran dalam kelompok ini terdapat banyak Yadnya, yang selanjutnya di Bali menjadi banyak banten dan binatang yang dikorbankannya, mulai dari Banten Saiban, Mesegeh, Caru dan puncaknya adalah Tawur, dalam tingkatan Kanista, Madya dan Utama. Pada awalnya ajaran ini merupakan perpaduan antara ajaran Veda yang otentik dengan peradaban lembah sungai Sindhu. Dari ajaran ini lahir bentuk – bentuk upakara dan turunannya.
2. kelompok Vedanta adalah kelompok yang dalam prakteknya tidak mengunakan banyak upacara, tetapi lebih pada Meditasi, filsafat dan Bhakti dan sering pula dikenal dengan kegiatan Kirtanam, Smaranam, pudja dan sedikit agni hotra.

Pada abad ke X, dibawah pemerintahan Raja Dharmawangsa Teguh, aliran-aliran yang berkembang di nusantara bersatu menjadi Agama Saiwa Sidhanta atau yang populer disebut “Pengider – ider” (Dewata Nawa Sangga) artinya, semua dewa – dewa dipuja menjadi satu kesatuan dalam Upacara – Upakara, puja dan tata letak yang kita kenal Tiga Kerangka Agama yaitu, Tattwa, Susila dan Acara, wujudnya dalam ruang lingkup Panca Yadnya.

Ajaran Saiwa Sidhanta inilah yang berkembang di Bali menjadi Agama Hindu Bali dengan segala peraturan pelaksanaannya yang melahirkan Budaya Bali yang membedakan corak dan wajah agama Hindu di India, di Jawa, Sumatera, Kalimantan Sulawesi, dan lain-lain.

Yang dimaksud Agama Hindu Bali disini adalah Agama Hindu yang dilaksanakan dalam koridor Kebudayaan Bali, yang seluruh aktivitasnya berada di Desa Adat / Pekraman. Dengan demikian bagaimana cara mengembalikan kebudayaan Bali kedalam identitasnya yang sejati?

Mau tidak mau, suka tidak suka, masyarakat Bali harus kembali membolak-balik kitab suci Veda yang merupakan dasar yang paling mendasar dari seluruh kerangka dan pondasi budaya Bali. Kembali menerapkan ajaran Veda dengan baik dan dengan tegas memberhanguskan tindakan dan kebiasaan yang tidak sesuai dengan prinsip-perinsip Veda.

Pelaksanaan upacara dan seluruh ritual adat harus dikembalikan kedalam koridor ajaran Veda. Para kaum brahmana tidak boleh melakukan upacara-upacara besar demi bisnis “banten” semata. Awig-awig (hukum) adat juga harus selalu bersandar pada prinsip-prinsip Veda. Jangan sampai pembuatan awig-awig ditunggangi oleh kepentingan sesaat yang bersifat pribadi.

Tempat-tempat suci dan juga pura keluarga tidak hanya dijadikan sebagai media upacara, tetapi dikembalikan ke fungsinya yang lebih luas, yaitu sebagai tempat bermasyarakat dan belajar filsafat sehingga antara upacara dan filsafat dapat berjalan secara balance. Sehingga pada akhirnya filsafat Hindu yang menelurkan etika Hindu harus diterapkan oleh masyrakat Bali dan diimplementasikan secara menyeluruh kedalam semua sisi adat dan budaya di Bali.

Ingatlah, Bali yang tanpa Hindu, Bali yang tanpa filsafat, tempat suci, masyarakat desa pakraman, yang hilang keramahtamahannya adalah Bali yang telah lenyap. Adalah kewajiban kita semua sebagai masyarakat Bali untuk mengembalikan Bali menjadi lebih baik.

Sumber :http://ngarayana.web.ugm.ac.id

Peradaban Veda Suku Maya

Imajinasi yang katanya merupakan rekaan ilmiah hasil karya Hollywood telah berhasil menarik perhatian semua orang. Tidak terkecuali masyarakat awam, para kaum itelektual dan rohaniawanpun tidak henti-hentinya berkoar-koar masalah kapan terjadinya kiamat. Suara pro dan kontra datang dari mana-mana. Uniknya, lembaga agamapun ternyata tidak tinggal diam, sampai-sampai sebuah lembaga agama mengeluarkan fatwa larangan menonton film kiamat tersebut.

Patrick Geryl, seorang pekerja laboratorium di Belgia rela meninggalkan pekerjaannya setelah dia merasa tabungannya mencukupi untuk bertahan hidup sampai tahun 2012. Namun ternyata Patrick bukanlah satu-satunya orang yang bertingkah aneh seperti itu, banyak anggota sekte apokaliptis yang meyakini hari kiamat melakukan hal serupa.

Kenapa kiamat menjadi isu yang sangat penting bagi umat manusia? Jawabannya sudah pasti, yaitu ketakutan pada kematian dan sikap materialistis yang berlebih.

Dari mana isu kiamat 2012 ini berawal? Semuanya datang dari usaha pemecahan misteri kalender suku bangsa Maya Amerika yang terkenal sangat maju dalam ilmu matematika dan astronomi. Para arkeolog mengasumsikan bahwa berakhirnya siklus penanggalan bangsa maya pada tanggal 12 Desember 2012 mengindikasikan bahwa berakhir juga peradaban di Bumi ini. Celakanya hal ini juga dikaitkan dengan isu orbit Bumi yang tepat dalam satu garis lurus dengan pusat tata surya. Beberapa ahli berpendapat bahwa dengan kondisi seperti itu, maka angin matahari akan mengarah ke Bumi. Adanya sunspot dan sunflare yang jumlahnya membengkak, menyebabkan adanya efek terhadap medan magnet bumi. Dikatakan juga bahwa hal ini terjadi lagi untuk pertama kalinya sejak 26.000 tahun yang lalu.

Benarkah kiamat akan terjadi pada tanggal 12-12-2012? Bantahan demi bantahan sudah datang dari berbagai golongan. Dari para ahli astronomi sudah menjelaskan bahwasanya angin matahari sudah biasa menerpa bumi setidaknya dalam kurun waktu setiap 11 tahun dan terbukti bahwa tidak ada masalah akan hal ini. Tetua suku bangsa Maya sendiri sudah membuka mulut prihal kesalahan tafsir yang dilakukan para ilmuan modern terhadap sistem kalender mereka. Mereka mengatakan bahwa dalam singkronisasi kalender Maya yang menggunakan basis bilangan yang berbeda dengan kalender Masehi menyebabkan seolah-olah terjadi siklus berulang kalender Maya yang jatuh pada tanggal 12 Desember 2012. Adanya akhir siklus ini bukan berarti dunia ini berakhir.

Siapakah Bangsa Maya yang memiliki ilmu astronomi yang sangat canggih tersebut?

Puing-puing peradaban suku Maya yang dulu di hancurkan oleh Christopher Columbus dan koloninya akibat semangat gospel yang membabi buta sekarang malah diakui sebagai peradaban yang sangat modern dan bahkan menggemparkan dunia akibat tafsir terhadap sistem kalendernya.

Sisa-sisa arkeologi Maya kuno mexico tersebar di bagian Yucatan, Campeche, Tabasco, daerah sebelah timur tengah dari Chiapas dan juga sebagian wilayah Quintana Roo, republik Meksiko. Seluasnya sekitar 125.000 mil persegi, jejak-jejak peradaban ini juga dapat ditemukan di bagian barat Republik Honduras, Peten, dataran tinggi Guatemala dan juga di seluruh Honduras. Columbus secara keliru menyebut daerah ini sebagai India. Meskipun ia menyadari kesalahan dan mengoreksinya kemudian, namun penduduk asli Amerika sampai sekarang akhirnya tetap disebut “orang India” atau Indian.

Sudah sangat banyak teori yang dikemukakan oleh para ahli untuk menjelaskan asal usul bangsa Indian Amerika ini dan hubungannya dengan peradaban kuno yang lain. Beberapa sejarawan meyakini teori yang menyatakan bahwa Suku Indian adalah orang Asia yang menyeberangi Asia melalui Selat Bering di Alaska dan mencapai Benua Amerika sekitar 12.000 – 15.000 tahun yang lalu, dan beberapa kalangan lagi yakin bahwa suku Indian adalah suku asli yang memang dari awal ada di sana. Meski begitu banyak waktu dan biaya telah dihabiskan untuk menguak tabir ini, namun sampai saat ini bangsa Indian kuno tetap terselubung dalam misteri. Mengutip pernyataan Glyn Daniel dari bukunya The First Civilization, “dalam waktu 15 tahun, antara 1519-1533, Bangsa Eropa menemukan benua Amerika dan menghancurkan tiga peradaban secara brutal, yaitu Aztec di Meksiko, Maya dari Yuacatan dan Guatemala serta Inca di Peru.” Elaborasi unik peradaban Maya telah menjadi tantangan tersendiri bagi para penjelajah imajinasi dan ahli sejarah. Maya telah mencapai peradaban tertinggi dalam bidang seni, kerajinan, patung dan hieroglif. Terdapat teori yang tak terhitung banyaknya tentang orang-orang kuno ini. Mereka memiliki peradaban yang luar biasa dalam hal sosial, ekonomi, bidang politik dan agama, kalender mereka dan tulisan-tulisan hiroglif. Meskipun ilmuwan modern telah mencapai keberhasilan signifikan dalam memecahkan sistem kalender Maya, namun tak satu pun yang sudah mampu memecahkan sistem tulisan hiroglif mereka.

Apa hubungan antara peradaban-peradaban tertua di dunia seperti peradaban Mesopotamia dan peradaban Mohenjodaro-Harapah (India) dengan peradaban “dunia baru” Amerika?

Kemungkinan adanya hubungan antara peradaban kuno di Asia, khususnya India kuno dengan kebudayaan Amerika kuno tidak dapat diterima oleh banyak sejarawan. Namun juga terdapat ilmuan-ilmuan terkemuka seperti Mackenzie, Hewitt, Tod, Pococke dan Mrs Nuttal sudah mengumpulkan banyak data untuk menunjukkan peradaban Amerika kuno dipengaruhi oleh peradaban India kuno. Satu hal yang pasti, pada masa pasca-Columbus yang berlangsung sekitar 300 tahun adalah kisah penghancuran kejam dan brutal terhadap bangunan-bangunan, dokumen berharga, dan kuil kuno serta pembantaian yang tidak berprikemanusiaan terhadap penduduk asli Amerika (Indian). Hanya tiga codex dari ‘Chilam Balam’ yang ternyata selamat secara utuh dari tragedi tersebut.

Ada dua penemuan arkeologi khusus yang merujuk tahun 761 M, yang mengarahkan pada hubungan peradaban Maya dengan peradaban kuno India. Yang pertama adalah ukiran dinding (Panel No 3 dari Candi 0-13, di Piedras Negras, Guatemala; direproduksi sebagai Plate 69, halaman 343 dari “The Ancient Maya ‘oleh S. G. Morley) yang terkait dengan puncak peradaban arsitektur dan seni patung bangsa Maya. Tampaknya bahwa adegan yang digambarkan dalam dinding tersebut sangat berkaitan dengan kisah termasyur ‘Ramayana’ dari India. Di sana diperlihatkan seorang raja duduk di tahta dan satu pelayan dengan dua anak-anak berdiri di sebelah kanan tahta. Seorang penjaga berdiri belakang. Di sisi lain raja, tiga tokoh penting berdiri sedangkan petinggi kerajaan yang lain duduk di depan tahta. Raja di atas tahta tersebut diyakini sebagai Suryavanshi Ram (Rama dari dinasti Surya) dengan dua saudara termasyhur berdiri di sampingnya (Bharata dan laksmana). Kedua anak kecil dalah putranya (Kusa dan Lawa). Ukiran-ukiran tersebut mengindikasikan adanya hubungan antara India dengan Meksiko yang berlangsung setidaknya pada abad ke-8. Bentuk relief dan ukiran angka-angka dapat dibandingkan dengan yang ditemukan di gua Ajanta dan Ellora di India.

Penemuan arkeologi lain di tempat yang sama yaitu Piedras Negras Guatemala, adalah sebuah batu stela (No 12, Plate No 18, halaman 61 dari “The Ancient Maya ‘oleh SG Morley). Sebuah kejadian mitologis telah diukir dalam Stela, menggambarkan kematangan arsitektur dan seni bangsa Maya pada tahun 594-889 M. Terdapat gambar dewa dengan delapan tangan (ashtabhuja) yang indah. Bentuk perwujudan dewa dengan delapan tangan ini hanya dimiliki oleh Hindu, lalu kenapa dapat ditemukan di sisa peradaban suku Maya? Karena penemuan inilah diindikasikan bahwa yang berkuasa di Meksiko pada waktu penaklukan oleh Spanyol adalah ‘Aztek’ atau Ashtak (Delapan).

Di indikasikan bahwa tempat dimana puing-puing ini ditemukan yaitu di Piedras Negras merupakan distorsi pelafalan bahasa sansekerta sebagaimana yang banyak terjadi selama ini. Yaitu dari kata ‘Priyadarsh Nagraj’. Morley telah menjelaskan secara terperinci Budaya dan sosial masyarakat maya dalam bukunya ‘The Ancient Maya’, dimana dia mengutip perkataan Uskup Diego de Landa yang saat itu juga berperan memberhanguskan kebudayaan kuno ini.

Uskup Landa mengatakan: “Orang-orang Maya memiliki jumlah berhala dan candi yang sangat banyak. Para bansawan, pemuka agama dan masyarakat melakukan ritual bersama dan mereka juga melakukan persembahan secara pribadi dihadapan berhala mereka dengan berbagai macam persembahan dan sudah pasti hal ini sangat berhubungan dengan India”.

Beberapa penemuan dan hipotesa terakhir mengatakan bahwa para pelaut dan pedagang dari Asia sudah sangat sering melakukan kontak dengan bangsa Amerika kuno. Pada era Mahabharata dan periode berikutnya raja-raja India memiliki armada laut yang besar yang digunakan untuk melakukan perdagangan dengan Negara-negara di Arab, Eropa, Asia tenggara, dan Samudra Fasifik. Penaklukan Malaya oleh Rajendra Chola, kisah Pelaut besar Buddhagupta (Mahanavik), ekspedisi keagamaan orang India untuk menyebarkan Hindu dan Buddha ke Kamboja, Annam, Bali, Jawa, Sumatera, Kalimantan, Jepang, Korea, Mongolia dan Cina juga merupakan dasar hipotesa yang kuat akan adanya link antara India kuno dengan Amerika kuno.

Cerita rakyat, Buddha Jatakas juga mengisahkan banyak kisah yang berkaitan dengan petualangan maritime/perjalanan laut yang menegaskan bahwa pengarungan samudra adalah bagian yang penting dari budaya India pada waktu itu.

Pembenaran akan adanya link antara India dan Amerika kuno ini juga dibenarkan oleh Dr V. Ganapati Sthapati yang melakukan pendekatan dari segi Vastu sastra, atau ilmu arsitektur kuno Veda. Vastusastra memiliki aturan-aturan ketat dan unik dalam seni bangunan tempat suci maupun tempat tinggal. Vastusastra diyakini sebagai aturan-aturan yang diwariskan dari Maya Danava yang banyak di singgung dalam kitab suci Veda sebagai sosok yang memiliki kemampuan magis dan kemampuan seni arsitektur yang tak tertandingi.

Pada musim semi 1995 Dr V. Ganapati melakukan perjalanan ke Peru untuk meneliti sisa-sisa bangunan kuno di sana. Betapa mengejutkannya dimana disana dia menemukan kesamaan plot, matrik geometri dan sistem pengukuran masyarakat kuno Peru dengan yang tertulis dalam Vasatipurusha Mandala. Beberapa bangunan juga sangat identik dengan kuil kubah yang disebut Vimana di India Selatan.

Dr Sthapati menemukan bahwa sistem pengukuran yang berkembang di India digunakan terutama di wilayah Peru Kushku. Berbagai bangunan juga dibangun secara ketat sesuai dengan prinsip-prinsip Vasati, sebagaimana dikembangkan oleh Maya Danava. Plot, posisi pintu dan jendela, proporsi, bentuk atap, sudut-sudut kecenderungan dari atap, diameter kolom, lebar dinding dan lain-lain secara sempurna sesuai dengan aturan Vasati, yang masih diterapkan di sebagian besar rumah di India saat ini.

Sulit untuk mengatakan bahwa kesamaan seni arsitektur Veda yang berkembang di India dengan yang terdapat di Peru sebagai suatu kebetulan. Tentunya harus terdapat suatu korelasi antara India kuno dengan bangsa kuno yang hidup di Peru. Apakah Maya Danava yang menurunkan Vastusastra berasal dari Amerika dan mengajarkannya di India ataukah dia pergi dari India ke Amerika dan mengembangkan sistem Vastusastra di sana? Bagaimana dia bisa melakukan perjalanan sejauh itu? Hal ini hanya bisa di jawab jika kita memperhitungkan mistik yang dimiliki oleh Maya Danava.

Menurut catatan sejarah Veda, Maya Danava mempengaruhi peradaban manusia selama 8.000 tahun. Maya danava juga digambarkan sebagai makhluk dari sistem planet lain yang memiliki segala macam kekuatan mistik dan ilmu astronomi. Dikisahkan bahwa Maya Danava bekerja sebagai seorang arsitek di India Selatan dan teks-teks Veda (Vastusasta).

Disamping itu juga terdapat indikasi adanya hubungan linguistic antara India dengan Amerika kuno. Sangat banyak istilah kata bangsa Maya yang sangat serupa dengan bahasa Veda, yaitu sansekerta. Contohnya kata “K’ultanlini” yang mengacu kepada kuasa/kesadaran Ilahi memiliki kemiripan dengan kata dalam sansekerta “Kundalini” yang mengacu pada maksud yang sama. Dan demikian juga dengan istilah “yoga” dalam bahasa bangsa Maya disebut “Yok’hah”.

Istilah Bangsa Maya, “Chilambalam” untuk menyebutkan ruang kuil castle-piramid Chichen Itza, ternyata memiliki plot yang sama dengan kuil Vimana di India Selatan. Keduanya dibangun dengan struktur grid persegi 8 x 8. Dalam aturan Vastusastra, Vasati, grid persegi disebut Manduka Mandala. Pusatnya disusun atas 4 persegi yang berkorelasi dengan Brahmasthana (tempat Brahma). Yang menurut aturan Vastusastra merupakan pusat energy ilahi yang sangat kuat sehingga tidak cocok sebagai tempat tinggal.

Baik bangunan yang didasarkan pada Vasati maupun bangunan-bangunan bangsa Maya menempatkan ruangan tersuci pada lokasi yang sama, dimana dalam istilah mereka disebut sebagai Chilambalam yang artinya ruang suci. Yang mengejutkannya, di India selatan setelah Shri Rangam terdapat kuil dewa Siva yang juga memiliki struktur yang sama dan ternyata ruangan sucinya juga di sebut sebagai Chidambaram.

Apakah itu berarti bangsa Maya dan Amerika kuno lainnya adalah penganut Veda?

Referensi:

http://www.indiagov.org/perspec/mar99/maya.htm

http://www.cylive.com/content/38511/Were_the_Mayan_Pyramids_Built_By_the_Vedic_Architect_Maya

http://ponniyinselvan.in/ta/node/4805/backlinks

Sumber: http://ngarayana.web.ugm.ac.id

Danghyang Nirartha dan Sejarah Wangsa di bali

Pada akhir abad ke – 15, kerajaan Majapahit mengalami keruntuhan. Selain disebabkan karena faktor dari dalam, yaitu perang saudara (Perang Paregreg) untuk menjadi penguasa di Majapahit, faktor dari luar juga menjadi penyebab keruntuhan salah satu kerajaan Hindu terbesar ini, yakni serangan dari Kerajaan Demak yang beragama Islam. Akibat dari hal tersebut, agama Hindu akhirnya surut oleh pengaruh agama Islam, dimana penduduk di Majapahit dan sekitarnya serta pulau Jawa pada umumnya akhirnya beralih keyakinan ke Agama Islam. Orang – orang Majapahit yang tidak mau beralih agama dari Hindu ke Islam akhirnya memilih meninggalkan Majapahit. Mereka memilih tinggal di daerah Pasuruan, Blambangan, Banyuwangi, dimana sebagian besar masyarakatnyamasih memeluk agama Hindu. Selain itu beberapa diantara mereka bahkan menetap di daerah pegunungan, seperti : Pegunungan Tengger, Bromo, Kelud, Gunung Raung (Semeru). Sedangkan beberapa dari mereka yang masih tergolong arya dan para rohaniawan memilih untuk prgi ke Bali, hal itu disebabkan karena saat itu di Bali pengaruh Agama Hindu masih sangat kuat. Oleh karena itu mereka mencari perlindungan di Bali, selain untuk melarikan diri dari Majapahit dan pengaruh Islam di Jawa. Salah seorang dari rohaniawan tersebut adalah Danghyang Nirartha atau Danghyang Dwijendra.
Danghyang Nirartha datang ke Bali pada tahun 1489 M, pada masa pemerintahan Raja Sri Dalem Waturenggong. Danghyang Nirartha datang ke Bali dalam rangka dharmayatra, akan tetapi dharmayatranya tidak akan pernah kembali lagi ke Jawa. Karena di Jawa (Majapahit) Agama Hindu sudah terdesak oleh Agama Islam. Namun kendatipun demikian, ternyata Danghyang Nirartha juga mempelajari agama Islam, bahkan Beliau menguasai Agama Islam, tetapi keislamannya tidak sempurna. Ini terbukti dari pengikut – pengikutnya, yaitu orang – orang Sasak di Pulau Lombok yang mempelajari Islam dengan sebutan Islam Telu (Islam Tiga). Ajaran Islam Tiga yang diajarkan di Lombok dapat dilihat pada geguritan Islam Telu (Tiga). Atas jasanya mengajarkan Islam (waktu telu) di Lombok, akhirnya Beliau diber gelar Haji Duta Semu, dimana konon Beliau pernah naik ke Mekkah dengan gelar Haji Gureh dan Islam yang Beliau ajarkan sekarang disebut Islam waktu telu (Islam sholat 3 waktu).

Terlepas dari hal tersebut, Danghyang Nirartha adalah penganut Agama Hindu yang sempurna. Seperti para leluhurnya, Danghyang Nirartha memeluk Agama Siwa, yang lebih condong ke Tantrayana. Agama Siwa yang diajarkan oleh Danghyang Nirartha adalah Siwa Sidhanta, dengan menempatkan Tri Purusa, yaitu Paramasiwa, Sadasiwa, dan Siwa. Dari tiga aspek ini Sadasiwalah yang diagungkannya. Untuk itu, dibuatkanlah pelinggih khusus yakni Padmasana, dari sinilah Sadasiwa atau Tuhan Yang Maha Esa,Yang Maha Kuasa, Yang Maha Ada, yang bersifat absolut, dan dipuja oleh semuanya. Oleh karena itu, setiap pura harus memiliki pelinggih Padmasana. Dengan demikian Danghyang Nirartha menjadi pembaharu Agama Hindu di Bali.

Di samping itu, Danghyang Nirartha adalah seorang pengawi, karangannya yang terkenal antara lain : Kidung Gegutuk Menur, Gita Sara Kusuma, Kidung Ampik, Kidung Legaran, Kidung Mahisa langit, Kidung Ewer, Kidung Mahisa Megatkung, Kekawin Dharma Putus, Kekawin Dharma Surya Keling (putus), Kekawin Danawantaka, dan Usana Bali, dan banyak sekali lontar – lontar yang memuat ajaran Agama Hindu yang dikaitkan dengan nama besar Danghyang Nirartha.

Sebelum sampai di Bali, Danghyang Nirartha mula – mula bertempat tinggal di Kediri, Jawa Timur. Di sini Beliau menurunkan dua orang putra yaitu Ida Ayu Swabhawa, dan Ida Kemenuh. Keturunan Ida Kemenuh menjadi Brahmana Kemenuh di Bali. Sedangkan Ida Ayu Swabhawa kemudian didharmakan di Pura Pulaki dengan nama Dewi Melanting.

Dari Kediri kemudian Danghyang Nirartha pindah ke Pasuruan, di sinipun menurunkan putra – putra yaitu Ida Kuluan, Ida Wetan Ida Ler, Ida Lor. Karena ibunya dari Manuaba, maka keturunannya disebut Brahmana Manuaba.

Dari Pasuruan, lalu Danghyang Nirartha pindah ke Blambangan, disinipun Danghyang Nirartha menikah dengan adik Dalem Blambangan, lalu menurunkan : Ida Istra Rai, Ida Sakti Telaga, da, Ida Kaniten. Semua keturunannya ini lalu disebut Brahmana Keniten. Setelah sampai di Bali, Danghyang Nirartha menetap di Desa Mas. Dari sinipun Danghyang Nirartha menikahi anak bendesa Mas. Dari pernikahan in Danghyang Nirartha memiliki putra : Ida Timbul, Ida Alngkajeng, Ida Penarukan, dan Ida Sigaran. Karena beribu Bendesa Manik Mas maka keturunan ini disebut Brahmana Mas, terakhir, Danghyang Nirartha juga menikahi pajroannya Putri Bendesa Mas, lalu menurunkan Ida Petapan.

Dengan demikian, putra – putra Danghyang Nirartha masing – masing melekatkan identitas sendiri : Brahmana Kemenuh, brahmana Manuaba, Brahman Kaniten, Brahmana Mas, dan Brahmana Patapan. Dalam upacara karya agung di Pura Besakih, Sri Dalem Waturenggong mengundang Danghyang Angsoka. Tapi karena sudah terlalu tua, maka diutuslah putranya ke Bali, yaitu Danghyang Astapaka. Kemudian Danghyang Astapaka mewakili unsur Pandita Budha, dan akhirnya menetap di Bali. Dalam perkembangan selanjutnya, Danghyang Nirartha diangkat menjadi Nabe, sekaligus sebagai pendeta utama kerajaan Gelgel.

Semenjak kedatangan dua pandita ini di Bali, maka kedudukan para empu yang tadinya sebagai purohito kerajaan mewakili unsur Siva – Budha dan Rsi Bhujangga yang mewakili unsur Waisnava diganti kedudukannya oleh mereka berdua. Dan unsur dari Bhujangga Waisnava tidak di ikut sertakan dalam hal kepanditaan dan kerohanian di dalam kerajaan. Bahkan dalam bidang kemasyarakatan Dang hyang Nirartha dengan restu Dalem membuat sturkturisasi pelapisan masyarakat di Bali. Pada mulanya masyarakat Bali menganut sistem varnasrma, lalu disusun berdasarkan wangsa, yang dalam istilah Barat (terutama Portugis) disebut kasta. Dimana keluarga dan keturunan Danghyang Nirartha dan Danghyang Astapaka menduduki pos sebagai Brahmana Wangsa. Kesatria Wangsa di isi oleh para keluarga Dalem dan para kerabat keluarga kerajaan. Para Arya didudukkan sebagai vaisya wangsa dan dari sudra adalah mereka di luar warga tadi, dengan tidak melihat asal-usul mereka di dalamnya termasuk warga Pasek dan Bhujangga. Dimana golongan ini dikenal dengan sebutan “Wang Jaba”.

Untuk meresmikan hal ini di masyarakat, struktur baru ini dimasukkan dalam lontar-lontar pedoman seperti Widhisastra Saking Nithi Danghyang Dwijendra. Namun warga Pasek yang digolongkan sudra diperkenankan menjadi pandita, hal ini karena antara keluarga Danghyang Nirartha dan keluarga Pasek masih memiliki hubungan keluarga. Kalau dilihat lagi dari asal usulnya Danghyang Nirarta adalah putra dari Danghyang Smaranatha, Danghyang Smaranatha adalah putra Mpu Tantular, Mpu Tantular adalah putra Mpu Bahula dengan Dyah Ratnamanggali, sedangkan orang tua dari Mpu Bahula adalah Mpu Bharadah dari pihak ayah. Sedangkan dari pihak ibu, Mpu Bahula adalah keturunan Mpu Kuturan. Baik Mpu Kuturan dan Mpu Bharadah adalah saudara dari Mpu Gnijaya yang tidak lain adalah leluhur para Warga Pasek, jadi dapat dikatakan mereka dalah sama-sama keturunan Bhatara Hyang Pasupati yang berparahyangan di gunung Mahameru India. Walaupun demikian, para Warga Pasek pada saat diksa (inisiasi) hanya menggunakan gelar Dukuh saja. Strukturisasi masyarakat seperti ini mulai diberlakukan di Bali, akhirnya sistem wangsa ini diterapkan dalam segala kehidupan bermasyarakat di Bali. Hal ini terbukti dari pelaksanaan upacara ngaben, pengarge tirtha pengentas, surat kajang dan atribut-atribut lainnya dalam upakara. Hal ini selalu di kaitkan dengan wangsa brahmana selaku pemegang kebijakan dalam pelaksanaannya di masyarakat. Selanjutnya, sebutan pandita untuk brahmana Siwa dan Budha dari keluarga Danghyang Nirartha tidak lagi memakai istilah Danghyang atau Mpu, melainkan menggunakan istilah Pedanda. Danda bisa berarti hukum dan bisa berarti tongkat. Jadi yang dimaksud pedanda adalah pemegang hukum atau pemegang tongkat. Demikianlah akhirnya putra-putra Danghyang Nirartha dan Danghyang Astapaka lalu disebut pedanda bagi yang telah di diksa (inisiasi). Hal lain, yang juga berlaku adalah rakyat biasa atau wang jaba/sudra tidak diperkenankan mempelajari veda, tanpa seijin dari wangsa brahmana, kalau sampai ada yang melanggar akan dikenakan hukuman berat.

Selanjutnya, putra-putra Danghyang Nirartha di Bali menurunkan keturunannya masing-masing. Ida Kuluan Brahmana Manuaba menurunkan Pedanda Penida di Wanasari dan Pedanda Temban di Tembau. Pedanda Temban adalah seorang pengawi kidung Wedari Smara dan kidung Brahmana Cangupati. Pedanda Weser dan Pedanda Batulumpang. Ida Wetan berputra Pedanda Panida, Pedanda Tegal Suci di Manuaba. Pedanda Lor berputra Pedanda Mambal yang beribu dari Pasuruan. Pedanda Ler berputra Pedanda Teges beribu dari Srijati. Ida Sakti Telaga (Brahmana Kaniten) berputra Pedanda Gusti dan Pedanda Alang kajeng yang berputra Pedanda Sangsi dan Pedanda Mas. Ida Patapan berputra Ida Ketut Tabanan, Ida Kukub di Tabanan dan Ida Ngenjuk di Lombok. Pedanda Lor juga beristri putri dari I Gusti Dauh Bale Agung yang menurunkan Pedanda Buruan yang bergelar Pedanda Manuaba yang berasrama di Manuaba, Gianyar. Pedanda Sakti Manuaba beristri dari Bajangan, lalu berputra pedanda Gde Taman di Sidawa, Taman Bali, Bangli yang berasrama di bukit Buwung di Sidawa. Pedanda Bajangan berasrama di bukit Bangli. Pedanda Abian di Telaga Tawang dan Pedanda Nengah Bajangan di Bukit. Pedanda Sakti Manuaba juga beristri putri Gajah Para dari Tianyar, lalu berputra pedanda wayahan Tianyar, Pedanda Nengah Tianyar, dan Pedanda Ketut Tianyar. Sedangkan Ida Kemenuh, putra Danghyang Nirartha yang tertua dengan keturunannya disebut Brahmana Kemenuh. Keturunan Ida Kemenuh disebut juga Brahmana Kediri. Sekianlah banyaknya keturunan Danghyang Nirartha di pulau Bali dan Lombok.

Pada waktu melakukan Dharmayatra ke Bali dari Daha, Jawa Timur. Danghyang Nirartha banyak mendirikan Pura – Pura terutama di daerah selatan pulau Bali, seperti Pura Rambut siwi, Pura Melanting, Pura Er Jeruk, Pura Petitenget dan lain-lain. Pura-pura yang didirikan oleh Danghyang Nirartha ini dikenal dengan Pura Dang Kahyangan. Selain di Bali, Danghyang nirartha juga melakukan dharmayatra ke Lombok dan Sumbawa. Bahkan di Sumbawa Danghyang Nirartha dikenal dengan sebutan Tuan Semeru. Sedangkan di Lombok dikenal dengan sebutan Haji Duta Semu, dan di Bali Danghyang Nirartha dikenal dengan sebutan Pedanda Sakti Wawu Rawuh.

Ada dua Bhisama dari danghyang nirarta kepada seluruh keturunannya, yaitu;
1. Seluruh keturunannya tidak diperkenankan menyembah pratima (arca – arca perwujudan).
2. Seluruh keturunanya tidak diperkenankan sembahyang di Pura yang tidak memakai atau tidak ada pelinggih Padmasana.

Akhirnya setelah mendiksa semua putra-putranya menjadi pedanda, lalu Danghyang Nirartha menuju Pura Luhur Uluwatu dan mencapai moksa di sana.
Hingga saat ini, peninggalan Danghyang Nirartha masih daat di lihat, seperti pura – pura di Bali yang dikenal dengan nama Pura Dang Kahyangan. Di dalam masyarakat Bali masih dapat di lihat strukturisasi masyarakat yang disebut wangsa dengan ciri-ciri nama sebagai berikut :
1. Wangsa Brahmana dikenal dengan sebutan Ida Bagus dan Ida Ayu.
2. Wangsa Kesatria dapat dikenali dengan sebutan Anak Agung dan Anak Agung Ayu.
3. Wangsa Vaisya dapat dikenali dengan sebutan I Dewa, I Gusti, I Dewa Ayu, Desak, I Gusti Ayu, Ngakan dan lain-lain,
4. Sedangkan mereka yang disebut sudra atau dalam istilah Balinya dikenal dengan “Wang Jaba” dapat dikenali dengan sebutan I Gede, I Wayan, I Putu, I Made, I Nyoman, I Ketut dan lain sebagainya.

Walaupun saat ini tidak seperti pada masa-masa kerajaan, namun pengaruhnya masih terasa sampai saat ini. Terutama pada saat upacara agama dan adat.
Dalam hal keyakinan (Agama Hindu) dapat dilihat peninggalannya berupa padmasana. Walaupun dalam Bhisamanya Danghyang nirarta melarang semua keturunanya menyembah pratima (arca – arca perwujudan), namun Danghyang Nirarhta mengagungkan Sadasiwa, sebagai manifestasi Tuhan Yang Maha Esa, yang Maha Segalanya dan hampir di semua pura di Bali saat ini terdapat pelinggih padmasana untuk mengagungkan Tuhan Yang Maha Esa.

Sumber: I Gede Agus Suprapto
http://ngarayana.web.ugm.ac.id

Maha Rsi Markandeya dan Orang Bali Aga

Orang-orang keturunan Austronesia telah menyebar di seluruh wilayah Bali. Mereka tinggal berkelompok-kelompok dengan Jro-jronya (pemimpin-pemimpinnya masing-masing). Kelompok-kelompok inilah nantinya yang menjadi desa-desa di Bali mereka adalah Orang Bali Mula, dan mereka dikenal dengan nama Pasek Bali.

Ketika itu, orang-orang Bali mula belum menganut Agama, mereka hanya menyembah leluhur yang mereka namakan Hyang. Menurut para ahli, kondisi spiritual masyarakat Bali pada saat itu masih kosong. Keadaan yang demikan ini berlangsung hingga awal tarih masehi kurang lebih sekitar abad pertama masehi. Dengan keadaan Bali yang demikian maka mulailah berdatangan orang-orang dari luar Bali ke pulau ini. Disamping untuk mengajarkan agama Hindu, mereka juga ingin memajukan Bali dalam segala sektor kehidupan. Untuk hal tersebut datanglah seorang rsi ke Bali yang bernama Maharsi Markandeya.

Menurut sumber – sumber berupa lontar, sastra, dan purana, Maharsi Markandeya berasal dari India. Seperti dinyatakan sebagai berikut dalam Markandeya Purana, “Sang Yogi Markandeya kawit hana saking Hindu” yang artinya “sang yogi Markandeya asal mulanya adalah dari India”. Dari data-data yang di dapatkan nama Markandeya bukan nama perorarangan, melainkan adalah nama perguruan atau nama pasraman seperti halnya juga nama Agastya. Perguruan atau pasraman adalah lembaga yang mempelajari dan mengembangkan ajaran-ajaran dari guru-guru sebelumnya. Kebiasaan secara tradisi yang diturunkan dari generasi ke generasi untuk melanjutkan tradisi dari guru sebelumnya, yaitu dari guru ke murid dan seterusnya. Garis perguruan turun temurun ini di sebut Parampara, dan tiap-tiap parampara menyusun pokok-pokok ajarannya, dari parampara yang telah mengangkat guru dan murid untuk melanjutkan garis perguruan ini dinamakan Sampradaya. Dari tiap-tiap sampradaya menyusun pokok-pokok ajarannya dari sumber-sumber yaitu, Catur Weda, Purana, Upanisad, Wedanta Sutra, dan Itihasa. Walaupun memiliki pandangan yang berbeda, namun mereka mengambilnya dari Weda dengan tradisi turun-temurun yang sama dalam menafsirkan dan mengajarkan pokok-pokok ajaran di dalam Weda. Demikian akhirnya, pustaka-pustaka suci tersebut disebarkan, dimana di antaranya adalah Markandeya Purana, Garuda Purana, Siva Purana, Vayu purana, Visnu Purana dan lain sebagainya. Bahkan dari tiap generasi ke generasi terdapat nama diksa (inisiasi) yang sama dengan nama pendahulunya. Jadi sang Maharsi Markandeya adalah seorang rsi dari garis perguruan yang namanya sama dengan nama pendahulunya di India, beliau datang ke Indonesia untuk menyebarkan agama Hindu, terutama paham Waisnava (pemuja Wisnu).

Ketika tiba di Indonesia, Maharsi Markandeya berasrama di wilayah Pegunungan Dieng, Jawa Tengah. Lalu beliau ber-dharmayatra ke arah timur, dan tibalah di Gunung Raung, Jawa Timur. Disini beliau membuka pasraman dimana beliau di dampingi oleh murid-murid beliau yang di sebut Wong Aga (orang-orang pilihan). Beberapa tahun kemudian beliau melanjutkan perjalanan ke timur, tepatnya ke pulau Bali yang ketika itu masih kosong secara spiritual. Disamping untuk mengajarkan agama Hindu, beliau juga ingin mengajarkan teknik-teknik pertanian secara teratur, bendungan atau sistem irigasi, peralatan untuk yajna dan lain-lain. Perjalanan beliau diiringi oleh 800 orang murid-muridnya.

Saat datang pertama kali ke Bali, beliau datang ke Gunung Tohlangkir. Disana beliau dan murid-muridnya merabas hutan untuk lahan pertanian, tetapi sayangnya banyak murid-muridnya terkena penyakit aneh tanpa sebab, ada juga yang meninggal diterkam binatang buas seperti mranggi (macan), ada yang hilang tanpa jejak, bahkan ada yang gila. Melihat keadaan demikian, Maharsi Markandeya memutuskan untuk kembali ke Gunung Raung, lalu beliau beryoga untuk mengetahui bencana yang menimpa murid-muridnya ketika ke Bali. Akhirnya beliau mendapatkan petunjuk bahwa terjadinye bencana tersebut adalah karena beliau tidak melaksanakan yajna sebelum membuka hutan itu.

Setelah mendapatkan petunjuk, Maharsi Markandeya kembali lagi datang ke Bali tepatnya ke Gunung Tohlangkir. Kali ini beliau hanya mengajak 400 orang muridnya. Tapi sebelum merabas hutan dan kembali mengambil pekerjaan sebelumnya, Maharsi Markandeya melakukan upacara ritual, berupa yajna, agni hotra, dan menanam panca datu di lereng Gunung Tohlangkir, Nyomia, dan upacara Waliksumpah untuk menyucikan dan mengharmoniskan tempat tersebut. Demikianlah akhirnya semua pengikut beliau selamat tanpa kurang satu apapun. Oleh karena itu, Maharsi Markandeya kemudian menamakan wilayah tersebut dengan nama Wasuki, kemudian berkembang menjadi nama Basukian dan dalam perkembangan selanjutnya orang-orang menyebut tempat ini dengan nama Basuki yang artinya keselamatan. Hingga saat ini, tempat ini dikenal dengan nama Besakih dan tempat beliau menaman panca datu akhirnya di dirikan sebuah pura yang diberi nama Pura Besakih. Dan Maharsi Markandeya mengganti nama Gunung Tohlangkir dengan nama Gunung Agung. Tidak hanya itu saja, Maharsi Markandeya akhirnya menamakan pulau ini dengan nama Wali yang berarti persembahan atau korban suci, dan dikemudian hari dikenal dengan nama Bali Dwipa atau sekarang dikenal dengan nama Bali, dimana semua akan selamat dan sejahtera dengan melaksanakan persembahan yajna atau korban suci. Setelah beberapa tahun lamanya beliau akhirnya menuju arah barat untuk melanjutkan perjalanan dan sampai di suatu daerah datar dan luas, sekaligus hutan yang sangat lebat. Disanalah beliau dan murid-muridnya merebas hutan. Wilayah yang datar dan luas itu dinamakan Puwakan, kemudian dari kata puakan berubah menjadi Kasuwakan, lalu menjadi Suwakan dan akhirnya menjadi Subak.

Di tempat ini beliau menanam berbagai jenis pangan dan semuanya bisa tumbuh dengan subur dan menghasilkan dengan baik. Oleh karenanya tempat ini di namakan Sarwada yang artinya serba ada. Karena keadaan ini dapat terjadi karena kehendak Tuhan lewat perantara sang maharsi. Kehendak bahasa Balinya kahyun, kayu bahasa sansekertanya taru, kemudian dari kata taru tempat ini dikenal dengan nama Taro dikemudian hari, yang terletak di kabupaten Gianyar. Di wilayah ini Maharsi Markandeya mendirikan pura sebagai kenangan terhadap pasramannya di gunung raung. Pura ini dinamakan Pura Gunung Raung, bahkan hingga saat ini di bukit tempat beliau beryoga juga di dirikan sebuah pura yang kemudian dinamakan Pura Luhur Payogan, yang letaknya di Campuan, Ubud. Pura ini juga disebut pura Gunung Lebah. Selanjutnya Mahasri Markandeya pergi ke arah barat dari arah Payogan dan kemudian membangun sebuah pura yang diberi nama Pura Murwa, sedangkan wilayahnya dan sebagainya di beri nama Parahyangan kemudian orang-orang menyebutnya dengan sebutan Pahyangan. Dan sekarang tempat tersebut dikenal dengan Payangan.

Orang-orang Aga, murid-murid maha rsi markandeya menetap di desa-desa yang dilalui oleh beliau, mereka membaur dengan orang-orang Bali mula, bertani dan bercocok tanam dengan cara yang sangat teratur, menyelenggarakan yajna seperti yang di ajarkan oleh Maharsi Markanadeya. Dengan cara demikian terjadilah pembauran orang-orang Bali mula dan orang-orang Aga, kemudian dari pembauran ini mereka dikenal dengan nama Bali Aga yang berarti pembauran penduduk bali mula dengan orang-orang aga, murid Maharsi Markandeya, dengan adanya hal ini, maka Hindu dapat diterima dengan baik oleh orang-orang Bali mula ketika itu. Sebagai rohaniawan (pandita) orang-orang Bali Aga dimana Maharsi Markandeya menjadi pendirinya, maka orang-orang Bali Aga dikenal dengan nama Warga Bhujangga Waisnava.

Dalam jaman kerajaan Bali, terutama zaman Dinasti Warmadewa. Warga Bhujangga Waisnsava selalu menjadi purohito (pendeta utama kerajaan) yang mendampingi raja, antara lain Mpu Gawaksa yang dinobatkan oleh sang ratu Sri Adnyadewi tahun 1016 M, sebagai pengganti Mpu Kuturan. Ratu Sri Adnyadewi pula yang memberikan wewenang kepada sang guru dari Warga Bhujangga Waisnava untuk melaksanakan upacara Waliksumpah ke atas, karena beliau mampu membersihkan segala noda di bumi ini, bahkan sang ratu mengeluarkan bhisama kepada seluruh rakyatnya yang berbunyi : “Kalau ada rsi atau wiku yang meminta-minta, peminta tersebut sama dengan pertapa, jika tidak ada orang yang memberikan derma kepada petapa itu, bunuhlah dia dan seluruh miliknya harus diserahkan kepada pasraman. Dan apa bila terjadi kekeruhan di kerajaan dan di dunia, harus mengadakan upacara Tawur, Waliksumpah, Prayascita (menyucikan orang-orang yang berdosa), Nujum, orang-orang yang mengamalkan ilmu hitam haruslah sang guru Bhujangga Waisnava yang menyucikannya, sebab sang guru Bhujangga Waisnava seperti angin, bagaikan Bima dan Hanoman, itu sebabnya juga sang guru Bhujangga Waisnava berkewajiban menyucikan desa, termasuk hutan, lapangan, jurang. Oleh karena sang guru Bhujangga Waisnava sebaik Bhatara Guru, boleh menggunakan segala-galanya dan dapat melenyapkan hukuman”.

Kemudian pada masa pemerintahan Sri Raghajaya tahun 1077 M yang diangkat menjadi purohito kerajaan adalah Mpu Andonamenang dari keluarga Bhujangga Vaisnava. Lalu Mpu Atuk di masa pemerintahan raja Sri Sakala Indukirana tahun 1098 M, kemudian Mpu Ceken pada masa pemerintahan raja Sri Suradipha tahun 1115 – 1119 M, kemudian Mpu Jagathita pada masa pemerintahan Sri Jayapangus tahun 1148 M. Untuk raja-raja selanjutnya selalu ada seorang purohito raja yang diambil dari keluarga Bhujangga Waisnava dan seterusnya hingga masa pemerintahan Sri Dalem Waturenggong di Bali. Saat itu yang menjadi purohito adalah dari griya Takmung dimana beliau melakukan kesalahan selalu acharya kerajaan yang telah mengawini Dewi Ayu Laksmi yang tidak lain adalah putri Dalem sendiri selaku sisyanya. Atas kesalahannya ini sang guru Bhujangga akan dihukum mati, tapi beliau segera menghilang dan kemudian menetap di daerah Buruan dan Jatiluwih, Tabanan.

Semenjak kejadian tersebut, dalem tidak lagi memakai purohito dari Bhujangga Waisnava. Sejak itu dan setelah kedatangan Danghyang Nirartha di Bali, posisi purohito di ambil alih oleh Brahmana Siwa dan Budha. Bahkan setelah strukturisasi masyarakat Bali ke dalam sistem wangsa oleh Danghyang Nirartha atas persetujuan Dalem, keluarga Bhujanggga Waisnava tidak dimasukkan lagi sebagai warga brahmana. Namun peninggalan kebesaran Bhujangga Waisnava dalam perannya sebagai pembimbing awal masyarakat Bali, terutama dari kalangan Bali Mula dan Bali Aga masih terlihat sampai sekarang. Pada tiap-tiap pura dari masyarakat Bali Aga, selalu ada sebuah pelinggih sebagai sthana Bhatara Sakti Bhujangga. Alat-alat pemujaan selalu siap pada pelinggih itu. Orang-orang Bali Aga/Mula cukup nuhur tirtha, tirtha apa saja, terutama tirta pengentas adalah melalui pelinggih ini. Sampai sekarang para warga ini tidak pernah/berani mempergunakan atau nuhur Pedanda Siva. Selain itu, para warga ini tidak pernah mempersembahkan sesajen dari daging ketika diadakan pujawali dan biasanya mereka menggunakan daun kelasih sebagai salah satu sarana persembahan selain bunga, air, api dan buah.

Warga Bhujangga Waisnava, keturunan Maharsi Markandeya sekarang sudah tersebar di seluruh Bali, pura pedharmannya ada di sebelah timur penataran agung Besakih di sebelah tenggara pedharman Dalem. Demikian juga pura-pura kawitannya tersebar di seluruh Bali, seperti di Takmung, kabupaten Klungkung, Batubulan, kabupaten Gianyar, Jatiluwih di kabupaten Tabanan dan di beberapa tempat lain di Bali.

Demikianlah Maharsi Markandeya, leluhur Warga Bhujangga Waisnava penyebar agama Hindu pertama di Bali dan warganya hingga saat ini ada yang melaksanakan dharma kawikon dengan gelar Rsi Bhujangga Waisnava. Sedangkan orang-orang Aga beserta keturunakannya telah membaur dengan orang-orang Bali Mula atau penduduk asli Bali keturunan Bangsa Austronesia, dan mereka dikenal dengan nama orang-orang Bali Aga.